Papua Barat, Lintasnews5terkini.com – Biji pala yang selama ini dijual murah, ternyata mengandung minyak atsiri dan senyawa aktif yang efektif sebagai anti bakteri alami. Warga kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, Papua Barat, diajari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UI untuk mengolah biji pala ini menjadi produk pembersih tangan (hand sanitizer) sehingga bisa bernilai jual lebih tinggi.
“Harapan kami, pelatihan dan ilmu dari Tim Ekspedisi Patriot UI tidak hanya berhenti sampai di sini saja, melainkan dikembangkan terus sampai menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga Kampung Werianggi,” kata Mama Katerina Bieth, salah satu peserta pelatihan pengolahan biji pala di Balai Isombani, kampung Werianggi, Papua Barat Sabtu, (19/9) lalu.
Pembersih tangan berbasis biji pala ini juga menjadi solusi bagi warga untuk menjaga sanitasi di tengah kekurangan air bersih. Workshop tersebut diikuti 20 mama-mama yang tergabung dalam kelompok UMKM Ayawata, baik orang asli Papua maupun transmigran.
Proses pembuatannya diawali dengan menjemur biji pala selama 5-6 hari hingga kering, lalu ditumbuk halus dan direndam dalam alkohol 70 persen dengan perbandingan 1:5 selama tiga hari. Campuran kemudian disaring dan ekstraknya dikemas ke dalam botol spray sebagai hand sanitizer siap pakai.
Pemilihan biji pala berangkat dari kajian literatur yang kini masih diverifikasi tim melalui pengujian.
“Kandungan itu kita lihat dari jurnal. Ternyata memang ada kandungannya untuk antiseptik. Cuma kita juga lagi meninjau lebih lanjut, setelah dicampur alkohol dan nonalkohol, apakah kandungan biji pala ini benar sebesar itu,” ujar Fhira, anggota Tim Ekspedisi Patriot UI, Jumat, (25/9) kemarin.
Pengujian di laboratorium membandingkan empat sampel, yakni kelompok tanpa hand sanitizer, hand sanitizer berbahan biji pala, berbahan daging pala, serta air rendaman biji pala tanpa alkohol.
Setelah hasil uji keluar, produk ini rencananya dipamerkan kepada sejumlah kepala daerah pada 1 Oktober mendatang, sebagai langkah awal memperkenalkannya ke pasar yang lebih luas.
Upaya mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai jual itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan ekonomi desa dan ekonomi kerakyatan sebagai fondasi kekuatan ekonomi nasional.
“Ekonomi desa, ekonomi kerakyatan justru tetap kuat, kokoh yang menyelamatkan kita justru adalah UMKM dan ekonomi kerakyatan,” ujar Presiden Prabowo, Jumat (14/8) lalu.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai kehadiran Tim Ekspedisi Patriot membuktikan ilmu pengetahuan bisa diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat.
“Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga solusi yang membumi,”_ ujar Menko AHY Kamis, (17/9) saat audiensi dengan TEP di Jayapura.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menambahkan pengembangan kawasan dapat dimulai dari potensi sederhana di sekitar masyarakat, lalu diperkuat lewat keterampilan, teknologi, pengemasan, dan akses pasar.
“Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,”_kata Menteri Iftitah. (*)

























