GOWA –lintasnews5terkini-, Di tengah kepungan camilan modern yang serba instan, kepulan uap panas dan aroma harum pandan dari sebuah gerobak sederhana di kawasan Samata, Kabupaten Gowa, kembali mencuri perhatian. Inilah Putu Menangis, sebuah kudapan tradisional berbahan dasar tepung beras, ketan, dan kelapa yang kini bertransformasi menjadi fenomena kuliner berkat sentuhan inovasi ala molten cake.
Berbeda dengan kue putu pada umumnya yang cenderung memiliki tekstur kering dan padat, Putu Menangis mendapatkan namanya dari teknik penyajian gula merah yang mencair sempurna. Saat kue dibelah, lelehan gula merah akan meluber keluar layaknya air mata, menciptakan sensasi visual dan rasa yang menggoda. Fenomena inilah yang menjadi magnet bagi warga maupun pelancong yang melintas di area Bundaran Samata.
Agus, salah satu penjual yang kini menetap di Bundaran Samata, menceritakan perjalanan panjangnya dalam menjaga eksistensi kuliner ini. Setelah tujuh tahun berjualan, ia memutuskan untuk tidak lagi berpindah tempat karena tingginya animo masyarakat.
“Dulu saya keliling dari Patung Massa sampai Antang. Namun empat tahun terakhir saya memilih menetap di sini karena peminatnya sangat banyak. Keuntungan harian bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp300.000, tergantung adonan yang dibuat,” ujarnya.
Meski Agus memilih menetap, tradisi berjualan menggunakan sepeda tetap dipertahankan oleh penjual lain seperti Hamzah. Bagi Hamzah, identitas adalah napas utama dari bisnis ini. Ia tetap setia pada metode keliling untuk menjemput bola sekaligus merawat memori kolektif pembeli.
“Putu menangis ini khasnya dijual orang Jawa dengan sepeda. Saya pastikan bahan baku seperti pandan asli dan gula aren pilihan tetap terjaga kualitasnya agar pelanggan tidak kabur,” tegasnya.
Kepopuleran kue ini tak lepas dari pergeseran selera konsumen yang mulai mencari tekstur lebih premium pada jajanan pasar. Agung, seorang pembeli setia sejak tahun 2022, mengaku jatuh cinta pada kelembutan teksturnya yang konsisten.
“Rasanya enak dan gula merahnya lumer. Teksturnya berbeda, tidak keras atau kering seperti putu tradisional biasa,” ucapnya.
Daya tarik Putu Menangis ternyata tidak berhenti di lidah, tetapi juga merambah ke ranah estetika digital. Fiska, seorang pelanggan dari generasi muda, melihat potensi visual yang besar dari kudapan ini untuk dibagikan ke media sosial. Menurutnya, isian gula merah yang meleleh sangatlah menarik di depan kamera atau sering disebut Instagrammable.
“Penyajiannya terlihat lebih rapi dan premium, tapi tetap membawa aroma pandan dan kelapa yang membangkitkan nostalgia,” tuturnya.
Tinjauan secara akademis pun mengamini keunikan produk ini. Rina Kusuma, S.Pd., seorang Dosen Tata Boga, menyebut fenomena ini sebagai terobosan teknik yang menarik dalam lanskap street food lokal. Ia menilai para penjual berhasil mengubah karakteristik gula merah padat menjadi isian meleleh layaknya kue cokelat modern.
“Ini sangat inovatif. Namun, tekniknya harus presisi; jika terlalu padat kehilangan ciri khasnya, jika terlalu lembut akan sulit dibentuk,” jelas Rina.
Ia bahkan menyarankan agar para penjual mulai bereksperimen dengan pewarna alami lain seperti daun suji untuk memperkaya variasi.
Rahasia di balik kelezatan Putu Menangis terletak pada standar operasional dapur yang cukup ketat. Para penjual menerapkan teknik khusus mulai dari presisi tekstur, di mana pencampuran tepung beras dan ketan dilakukan dengan perbandingan tertentu agar kue tetap empuk meski sudah mendingin. Proses penyaringan adonan juga dilakukan secara teliti guna memastikan uap air masuk merata saat pengukusan sehingga menghasilkan tekstur yang ringan dan halus (fluffy).
Selain itu, penggunaan perasan pandan asli tetap dipertahankan untuk menjaga aroma alami tanpa bantuan perisa kimia. Kontrol suhu juga menjadi kunci utama; potongan gula merah diletakkan sedemikian rupa agar mencapai titik leleh sempurna tepat saat adonan tepung matang. Kehadiran Putu Menangis di Samata menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional mampu bertahan dan tetap relevan di pasar modern selama dibarengi dengan inovasi teknik dan konsistensi kualitas bahan baku.
Penulis : Habib Muallim (Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)



















