MAKASSAR – lintasnews5terkini,- Upaya mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan hidup di Makassar terus digencarkan melalui program pemilahan dan daur ulang sampah. Namun, sejumlah tantangan, terutama terkait Sumber Daya Manusia (SDM) dan dukungan infrastruktur, masih membayangi keberhasilan program
Program pemilahan sampah di sekolah sangat penting karena mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, menciptakan sekolah yang bersih, dan membantu mengurangi jumlah sampah di TPA. Dengan adanya pembelajaran ini, siswa dapat langsung mempraktikkan perilaku ramah lingkungan dalam keseharian mereka.
Di SD Negeri Mangkura 2, program pemilahan sampah sudah berlangsung lama, bahkan sebelum sekolah tersebut menjadi sekolah Adiwiyata.
Menurut Dian Eka Yudana, Guru SDN Mangkura 2, yang ditemui di Hotel Aston Makassar saat kegiatan koordinasi Tindak Lanjut Program Adipura Kota Makassar, program pemilahan sampah sudah berlangsung lama, bahkan sebelum sekolah tersebut menjadi sekolah Adiwiyata. Terdapat tiga jenis tempat sampah yang disediakan, yaitu untuk sampah plastik, kertas, dan B3.
Sampah Plastik diolah menjadi eco-brick setelah siswa membersihkan bungkus makanan plastik terlebih dahulu.
Sampah Kertas dimanfaatkan kembali menjadi amplop dari sisa print yang salah.
Meski sudah berjalan lama, Dian mengakui bahwa konsistensi pemilahan sampah membutuhkan usaha ekstra.
“Yang namanya anak-anak kan pasti akan berulang-ulang. Kita sebagai guru tentunya tidak boleh bosan untuk menyampaikan bagaimana cara mengolah sampah yang baik dan benar,” ujarnya, saat di wawancarai pada 9 desember 2025.
Perubahan positif yang paling terlihat adalah siswa mulai terbiasa mengumpulkan sampah plastik dan berlomba-lomba membuat eco-brick yang cepat penuh.
Hal serupa juga terlihat di SD Negeri Mangkurai 4, di mana program pemilahan sampah sudah diterapkan sejak Walikota terbaru mencanangkan sekolah ber-Adiwiyata.
Suryadi Akbar, Guru SDN Mangkura 4, yang juga ditemui pada 9 Desember 2025 di Hotel Aston Makassar saat pertemuan yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup, menjelaskan sekolahnya memiliki Pokja Bank Sampah dan memilah empat jenis sampah yaitu plastik, kaca, kertas, dan sampah B3 seperti bekas baterai dan lampu.
Sampah Plastik menjadi jenis yang paling banyak berhasil didaur ulang, di mana siswa mengolahnya menjadi kerajinan, eco-brick, meja, hingga busana untuk festival.
Suryadi mencatat bahwa siswa kelas tinggi (kelas 4, 5, 6) sudah mengetahui penempatan sampahnya, termasuk membuang sampah daun ke tempat kompos. Kendala minor yang dihadapi adalah siswa kelas rendah (kelas 1) yang belum terbiasa memilah sampah.
Adapun Tantangan dan Harapan Kerja Sama dengan Bank Sampah
Kedua sekolah mengakui adanya kerja sama dengan pihak luar, terutama Bank Sampah. Namun, kendala utama yang dirasakan adalah jarak dan aksesibilitas.
Dian menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan Bank Sampah Pusat yang berlokasi di Toddopuli, yang jaraknya terlalu jauh dari sekolah di Kecamatan Wajo. Jarak yang jauh ini menjadi kendala karena penjemputan baru dilakukan jika sampah sudah mencapai skala besar, membuat sekolah kesulitan dalam hal pengiriman dan penjemputan sampah minimalis.
Harapan besar dari kedua narasumber adalah agar Bank Sampah dapat membentuk unit-unit terdekat di setiap kecamatan untuk mempermudah akses dan kerja sama.
Menanggapi implementasi program ini, Nurlinda, ST, staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, saat diwawancarai secara daring pada 9 Desember 2025, menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi secara umum adalah kurangnya SDM dan rendahnya kesadaran siswa terhadap pemilahan sampah di sekolah.
Kebijakan utama yang mendasari program ini adalah kewajiban sekolah untuk melaksanakan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup sejak tahun 2019, sesuai dengan Permen LHK Nomor 52 Tahun 2019.
Meski demikian, tanggapan mengenai efektivitas program ini di lapangan dinilai masih kurang maksimal, di mana masih ditemukan sampah yang tidak dipilah atau tercampur. Upaya pembinaan yang dilakukan DLH berupa sosialisasi dan edukasi kepada sekolah-sekolah, serta penyediaan fasilitas seperti tempat sampah terpilah dan komposter.
Penulis: Syahrul Yahya (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

























