Makassar, lintasnews5terikini,- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti dan Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya menggelar aksi penyampaian sikap terkait persoalan krisis energi yang dinilai semakin membebani masyarakat di Kota Makassar, Pada Senin (14/9/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari pemadaman listrik bergilir, ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga kelangkaan dan distribusi LPG 3 kilogram.
Mahasiswa menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai masalah teknis semata. Sebab, kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, mobilitas, serta daya beli masyarakat.
Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti mengangkat grand isu:
“ENERGI KRISIS, DOMPET KRITIS, PEJABAT NARSIS.”
Presiden Mahasiswa Universitas Wira Bhakti, Arnold, menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan akses energi yang aman, tersedia, terjangkau, dan terdistribusi secara adil. Menurut mahasiswa, pemadaman listrik yang terjadi secara bergilir serta persoalan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram menunjukkan perlunya transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola energi.
Ketika rakyat kemudian masih di perhadapkan dengan krisis energi yang secara sederhana itu adalah bagian daripada kebutuhan yang paling mendasar bagi masyarakat, maka dengan tegas kami mengatakan itu adalah kebobrokan pemerintah dalam mengelola ataupun memanage, dan kami mahasiswa menegaskan “KETIKA RAKYAT KRISIS ENERGI, BAHLIL STOP JADI MENTERI.” ujarnya di sela-sela orasi
Sementara itu, Presiden Mahasiswa STIEM Bongaya, Adit, menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola distribusi migas serta pengawasan yang lebih serius terhadap dugaan penyimpangan dalam distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.
Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya mendesak aparat penegak hukum untuk tidak berhenti pada persoalan di tingkat permukaan, tetapi melakukan penyelidikan secara menyeluruh apabila terdapat dugaan praktik mafia atau jaringan distribusi ilegal yang merugikan masyarakat.
TUNTUTAN ALIANSI MAHASISWA UNIVERSITAS WIRA BHAKTI
Atas persoalan tersebut, Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti menyampaikan sejumlah tuntutan, yakni:
- Stop pemadaman listrik bergilir.
- Buka hasil pengawasan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram kepada publik.
- Gugat kriminalisasi terhadap masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
- Jamin ketersediaan BBM bersubsidi secara merata dan tepat sasaran.
- Audit menyeluruh distribusi LPG 3 kilogram dari penyalur hingga konsumen akhir.
Sementara itu, Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya menyampaikan dua tuntutan utama, yakni:
- Mendesak Pertamina melakukan evaluasi dan pembenahan tata kelola distribusi migas.
- Mendesak Polda Sulsel membongkar dugaan mafia BBM dan LPG 3 kilogram, mengusut jaringan yang terlibat, serta menindak tegas pelaku sesuai ketentuan hukum.
Aliansi mahasiswa menilai negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi dengan baik. Energi merupakan kebutuhan dasar yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan roda perekonomian.
Mahasiswa menegaskan bahwa transparansi, pengawasan, dan penegakan hukum harus menjadi bagian utama dalam menyelesaikan persoalan energi di Makassar. Mereka menilai krisis energi tidak boleh terus menjadi beban bagi masyarakat.
Citizen Reporter: Aliansi Mahasiswa Universitas Wira Bhakti X Aliansi Mahasiswa STIEM Bongaya

























