Jakarta, Lintasnews5terkini.com – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengajak Gabungan Industri Pariwisata Infonesia (GIPI) untuk terus memperkuat ekosistem pariwisata nasional di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Menpar Widiyanti dalam sambutannya pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GIPI bertema “Solidaritas GIPI Mengembangkan Pariwisata Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia” di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (14/10/2026), menegaskan bahwa GIPI memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pariwisata yang tangguh, terintegrasi, dan berdaya saing.
Menurut Menpar, pariwisata merupakan ekosistem yang menghubungkan berbagai subsektor usaha, mulai dari transportasi, akomodasi, kuliner, ekonomi kreatif, hingga layanan pendukung lainnya. Karena itu, keberhasilan pembangunan pariwisata sangat bergantung pada keterhubungan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Kekuatan ekosistem inilah yang ditentukan oleh seberapa kuat setiap simpul itu terhubung,” kata Menpar Widiyanti.
Dalam kesempatan tersebut, Menpar Widiyanti memaparkan sejumlah indikator kinerja pariwisata nasional yang menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan positif di tengah berbagai tantangan global.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 10,58 juta kunjungan atau tumbuh 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan kunjungan wisman tertinggi kedua di antara lima negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, setelah Vietnam.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 840 juta perjalanan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian ini mencerminkan besarnya peran pasar domestik dalam menjaga aktivitas pariwisata sekaligus menggerakkan perekonomian di berbagai daerah.
“Kami masih optimistis pada akhir tahun kunjungan wisatawan akan kembali ke level prapandemi meskipun saat ini kita menghadapi tekanan global yang sangat signifikan. Di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global, pertumbuhan kunjungan wisatawan kita merupakan yang tertinggi kedua di antara lima ekonomi terbesar Asia Tenggara, setelah Vietnam,” kata Menpar Widiyanti.
Selain pertumbuhan jumlah kunjungan, Menpar Widiyanti menekankan pentingnya peningkatan kualitas belanja wisatawan agar manfaat ekonomi pariwisata semakin luas dirasakan masyarakat.
Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan atau Average Spending per Arrival (ASPA) sebesar 6,36 persen, sementara devisa pariwisata meningkat 2,8 persen dibandingkan semester I-2025.
Menpar menjelaskan pengeluaran wisatawan memiliki dampak langsung terhadap berbagai kegiatan ekonomi, termasuk usaha akomodasi, makanan dan minuman, cendera mata, hiburan, transportasi, serta paket wisata yang dikelola masyarakat lokal.
Peningkatan belanja wisatawan tersebut menjadi indikator penting bahwa keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari banyaknya kunjungan, tetapi juga dari nilai ekonomi yang dihasilkan dan manfaatnya bagi masyarakat di destinasi.
“Ini bukti nyata bahwa kita tidak hanya mendatangkan kunjungan wisatawan, tetapi juga mengubahnya menjadi dampak ekonomi bagi Indonesia dan masyarakat,” ucap Menpar Widiyanti.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional juga tercermin dari penyerapan tenaga kerja yang mencapai 25,91 juta orang, menjadikannya sebagai salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar ketiga secara nasional.
Dari sisi investasi, realisasi investasi sektor pariwisata mencapai Rp39,68 triliun pada semester I-2026, melanjutkan momentum positif setelah mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp73,56 triliun sepanjang 2025.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi sektor pariwisata dalam menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha, dan memperluas pemerataan manfaat ekonomi, terutama bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata.
Di tingkat internasional, daya saing pariwisata Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif melalui berbagai pengakuan dan penghargaan dunia.
Indonesia berhasil menempati peringkat kedua dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, yang mencerminkan daya saing Indonesia sebagai destinasi wisata ramah wisatawan Muslim.
Selain itu, berdasarkan pemaparan Menpar, Indonesia mencatatkan skor 4,56 dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026, dengan posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di kawasan Asia Pasifik.
Sepanjang Januari hingga September 2026, Indonesia juga meraih 157 penghargaan internasional di bidang pariwisata, termasuk pengakuan terhadap kualitas akomodasi melalui penghargaan Michelin Keys yang diterima 47 hotel di Indonesia.
“Peringkat Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026 juga meningkat dengan skor 4,56, menempatkan Indonesia pada posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di Asia Pasifik. Indonesia juga meraih 157 penghargaan internasional sepanjang Januari hingga September 2026, termasuk 47 hotel yang menerima penghargaan Michelin Keys,” tutur Menpar Widiyanti.
Menurut Menpar, berbagai capaian tersebut perlu menjadi momentum bagi pemerintah dan pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas konektivitas, serta memastikan pembangunan pariwisata berjalan secara berkelanjutan dan inklusif.
Lebih lanjut, Menpar Widiyanti mengajak seluruh pelaku usaha dan asosiasi yang tergabung dalam GIPI untuk mempersiapkan destinasi, layanan, dan penyelenggaraan kegiatan pariwisata dalam menyambut periode libur akhir tahun dan awal tahun mendatang.
Kesiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas pelayanan, keselamatan dan kenyamanan wisatawan, pengelolaan destinasi, serta keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam rantai ekonomi pariwisata.
Menpar menekankan setiap kegiatan pariwisata harus mampu memberikan pengalaman berkualitas bagi wisatawan sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata dan merata bagi masyarakat.
“Mari kita pastikan setiap event dan destinasi tidak hanya menghadirkan angka kunjungan, tetapi juga memberikan nilai tambah, menjaga keselamatan, serta memberikan dampak ekonomi yang berkeadilan bagi masyarakat luas,” kata Menpar Widiyanti.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) GIPI Hariyadi Sukamdani menyampaikan sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri pariwisata nasional dalam mempercepat pemulihan dan menjaga pertumbuhan sektor tersebut.
Hariyadi mengidentifikasi enam persoalan utama, yakni belum optimalnya promosi pariwisata akibat keterbatasan anggaran negara, tingginya biaya operasional penerbangan, kenaikan biaya tenaga kerja, regulasi yang menimbulkan biaya tinggi, dukungan pembiayaan perbankan yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri pariwisata, serta munculnya sentimen negatif terhadap penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan hiburan.
Menurut Hariyadi, berbagai tantangan tersebut memerlukan perhatian dan penyelesaian bersama agar industri pariwisata nasional dapat tumbuh secara sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan berskala internasional, termasuk konser musik dan berbagai ajang hiburan yang berpotensi menarik wisatawan serta menggerakkan perekonomian masyarakat.
“GIPI menyayangkan timbulnya sentimen negatif dari sejumlah tokoh masyarakat yang mendesak pembatalan berbagai ajang hiburan dan konser internasional yang direncanakan. Langkah ini berpotensi merugikan masyarakat luas dan mengganggu ekosistem pariwisata yang tengah bangkit,” kata Hariyadi. (*)

























