China, Lintasnews5terkini.com – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menjajaki pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal di kawasan transmigrasi dengan mempelajari keberhasilan Wuchen, Kabupaten Tongxiang, China, dalam mengelola kawasan wisata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan warisan budaya.
Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Transmigrasi Yoyo A. Budiyanto saat delegasi Kementrans mengunjungi Wuchen pada 17 Oktober 2026. Kawasan ini dikenal sebagai tuan rumah konferensi internet internasional tahunan yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai negara.
“Konferensi ini dimulai sejak tahun 2014,” ujar Yoyo.
Menurut Yoyo, salah satu hal menarik dari Wuchen adalah keberhasilannya merevitalisasi kawasan bersejarah yang telah berusia ratusan tahun. Revitalisasi yang dimulai pada 1999 dan 2000 itu mengubah kawasan yang semula tergolong miskin menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dalam proses tersebut, bangunan dan lingkungan perkampungan tradisional yang memiliki nilai sejarah tetap dipertahankan. Pendekatan ini menjadikan warisan budaya sebagai daya tarik wisata sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
“Masyarakat lokal mendapat keuntungan dari pengembangan kawasan wisata ini,” ujarnya.
Yoyo mengatakan, Wuchen mampu menarik sekitar empat juta wisatawan, sehingga aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi Kementrans dalam mengembangkan potensi wisata di kawasan transmigrasi, termasuk Barelang di Kota Batam, Kepulauan Riau, serta kawasan transmigrasi di Papua.
“Hasil kunjungan kerja ke Wuchen akan kita sampaikan ke Bapak Menteri Transmigrasi. Apa yang ada di Wuchen Kita ingin diimplementasikan di kawasan transmigrasi,” tambahnya.
Ia menegaskan, pembangunan kawasan transmigrasi tidak hanya berfokus pada sektor pertanian, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pariwisata yang mengangkat kekayaan budaya lokal. Upaya tersebut diharapkan tidak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjadikannya bagian dari aktivitas ekonomi produktif masyarakat.
“Bukan hanya melestarikan tetapi juga menghidupkan. Paling penting adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan dan pemasaran produk lokal, termasuk kerajinan dan komoditas khas daerah. Dengan demikian, kekayaan budaya tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi.
Untuk menggali potensi tersebut, Kementrans saat ini melibatkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP), yang terdiri atas 1.476 peserta dari 10 perguruan tinggi negeri unggulan. Tim ini melakukan riset dan pendampingan di berbagai kawasan transmigrasi guna mengidentifikasi peluang pengembangan ekonomi serta merumuskan potensi yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
“Mereka melakukan pendampingan di kawasan-kawasan transmigrasi. Dengan demikian kita harapkan ada potensi yang tergali,” ujarnya.
Melalui pembelajaran dari Wuchen dan riset yang dilakukan TEP, Kementrans berharap kawasan transmigrasi dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tetap berakar pada budaya lokal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)

























